Category: Artikel

Keutamaan Sholat Isroq

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah, yang sempurna, sempurna, sempurna.”
(HR. Tirmidzi)

Gambar Ilustrasi Sumber : http://www.fadhilza.com/

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat, setelah shalat shubuh berjamaah, untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat (shalat Isyraq).

Waktu shalat isyroq sebagaimana waktu dimulainya shalat Dhuha yaitu mulai matahari setinggi tombak, sekitar 15-20 menit setelah matahari terbit.

Berikut penjelasan dari Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA. mengenai keutamaan Sholat Isroq :

Tata cara pelaksanaan shalat Isyraq :

  1. Shalat isyroq dilakukan sebanyak dua raka’at. Gerakan dan bacaannya sama dengan shalat-shalat lainnya.
  2. Shalat isyroq disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat jama’ah shubuh di masjid lalu ia berdiam untuk berdzikir hingga matahari terbit, lalu ia melaksanakan shalat isyroq dua raka’at.   

Ketika berdiam di masjid, kita dianjurkan untuk berzikir. Bentuk zikir di sini adalah sebagaimana zikir pada umumnya, diantaranya bisa dengan membaca Alquran, membaca zikir pagi, atau lebih khusus lagi membaca zikir sebagaimana zikir yang disusun oleh Ust. Muhammad Abdul Nasir yang bisa di download DISINI atau dapat dilihat dan dibaca langsung pada gambar berikut ini :

Semoga Allah memudahkan kita untuk selalu menghidupkan sunnah yang mulia ini, amiiin…

(Referensi dari berbagai sumber di internet)

Penerapan Peraturan Walikota Palangka Raya Nomor 26 Tahun 2020

Mengingat semakin meluasnya tingkat penyebaran Corona Virus Disease 19 (Covid-19), Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya telah menerbitkan Peraturan Walikota (Perwali) Palangka Raya Nomor 26 Tahun 2020 yang ditanda tangani pada tanggal 7 September 2020 lalu dan sebagai tindak lanjut penerapannya, Pemko Palangka Raya sangat gencar mensosialisasikannya kepada seluruh lapisan masyarakat.

Sumber Gambar : https://bkpsdm.palangkaraya.go.id/

Dalam sosialisasi tersebut disampaikan bahwa Perwali akan diterapkan mulai tanggal 14 September 2020 dan diiringi dengan pemberian sanksi bagi pelanggar peraturan tersebut. Hal tersebut dimaksudkan agar tingkat penyebaran dan penularan Virus dapat dihentikan.

Subjek dalam peraturan tersebut adalah perorangan, pelaku usaha, pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat dan fasilitas umum. Setiap orang wajib melakukan 4M yaitu:

  1. Memakai masker
  2. Mencuci tangan
  3. Menjaga jarak
  4. Menghindari kerumunan

Berdasarkan peraturan di atas, maka Pengurus Masjid Al-Anwar Perum Bumi Palangka II Palangka Raya mengajak kepada seluruh jamaah untuk mematuhi dan melaksanakan ketentuan yang diatur dalam peraturan tersebut. Mari bersama-sama mencegah dan mengurangi penyebaran covid-19 dengan melaksanakan 4M di atas.

Sosialisasi penerapan disiplin dan penegakan hukum protokol kesehatan tersebut dapat dilihat pada bagian berikut :

Sedangkan Peraturan Wali Kota Palangkaraya Nomor 26 Tahun 2020 Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 dan Pemulihan Ekonomi di Kota Palangka Raya dapat di download DISINI

Menjadi User Web Masjid Al-Anwar

Web masjid Al-Anwar Kota Palangka Raya menerima artikel-artikel dari jamaah masjid Al-Anwar maupun masyarakat luas yang tertarik dan ingin berkontribusi melalui tulisan dan artikel-artikel terkait dengan Syiar Islam. Tentu saja semua artikel yang masuk akan melalui editor terlebih dahulu sebelum ditampilkan, hal ini untuk menghindari kemungkinan terjadinya narasi-narasi yang kurang sesuai dengan visi dan misi web masjid Al-Anwar ini.

Berikit ini adalah cara atau langkah-langkah yang dilakukan jika akan menjadi salah satu kontributor naskah atau artikel dalam web ini, silahkan Anda turut berkontribusi dan dengan senang hati kami akan menerimanya.

Berikut ini adalah langkah-langkah untuk mendaftar menjadi user sebagai kontributor di web masjid Al-Anwar.

Menuju Keridhaan Allah SWT

Ridha merupakan bentuk infinitive (mashdar) dari radhiya-yardha yang diartikan sebagai rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qanaah) berhati lapang.

Ridha adalah sesuatu perbuatan kita yang kita lakukan untuk membuat Allah senang dan Allah meridhai apa yang kita perbuat atau kita lakukan.

Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. Sedangkan ridha Allah kepada hambaNya berarti Dia melihat dan menyukai hambaNya yang menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dimensi ridha ada dua, pertama adalah Ridha billah atau rela dan cinta kepada Allah yang berarti bersedia mengimani dan menjadikanNya sebagai Dzat yang wajib diibadahi, tidak menyekutukanNya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariatNya. Ridha yang kedua adalah Ridha ‘anillah yang berarti sebagai hamba menerima ketentuan, takdir, rezeki, dan segala sesuatu yang ditetapkan olehNya.

Keridhaan yang dimaksudkan bukan berarti seorang hamba itu menyerah atau pasrah dengan yang ada tanpa berusaha, berdoa dan bertawakal, justru sebaliknya hamba yang ridha diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa memohon pada Allah sebagai yang maha berkuasa atas segala sesuatu.

Ridha kepada Allah mengharuskan seorang hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan mentaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladananya; menjadikan Islam sebagai agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya.

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus ditapaki hamba. Pertama, Ridha Bi Syar’illah (Syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh dedikasi.

Kedua, Ridha Bi Qadha’illah (Ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yang telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat keimanan seseorang.

Ketiga, Ridha Bi Rizqillah (Rezeki Allah)  berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.

Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat.

Berkenaan dengan kegiatan untuk menuju keridhaan Allah SWT maka pada bulan Dzulhijjah kita tidak asing lagi dengan kegiatan ibadah qurban yang dilaksanakan oleh semua umat muslim di dunia, karena salah satu tujuan dari kegiatan berqurban adalah untuk mencapai keridhaan Allah SWT tersebut. Hal ini pula yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Ahmad Hardiani dalam khotbah shalat Idul Adha pada tahun 1441H atau 2020M yang bertepatan dengan Hari Jum’at tanggal 31 Juli 2020. (Dinarasikan dari Berbagai Sumber)

Adapun khotbah Idul Adha yang disampaikan beliau sebagaimana ditulis ulang di bagian bawah ini atau dapat di download disini.

Syariat Menuju Keridhaan Allah SWT

Oleh : Ust. Drs. Ahmad Hardiani

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Sejak fajar menyingsing di pagi hari ini, sampai terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah nanti, atauyang dinamakan Hari-Hari Tasyriq selama 4 hari berturut-turut, kita berada dalam suasana ‘IdulAdha, ‘Id yang terbesar dalam Islam, ‘Id yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat Islam yang telah bertaqwa kepada Allah SWT.

Pada hari ini, kita disuruh bershalat ‘Idul Adha dan menyembelih Qurban, sebagaimana firma Allah dalam Al-Qur’an :

انا اعطيناك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. (الكوثر

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenti kamu dialah yang terputus”. (QS- Al Kautsar : 1-3).

Semoga shalat ‘Id yang baru saja kita laksanakan bersama-sama diterima di sisi Allah Yang Maha Esa serta memberi kesan yang mendalam untuk ketenteraman jiwa dan kekuatan Iman di dalam menempuh kehidupan dunia ini. Semoga kita dalam kasih sayangnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

Sesudah shalat ‘Id ini kita diperintahkan oleh Allah melaksanakan syariat qurban, yakni dengan menyembelih hewan, seperti lembu atau kambing.

Qurban pada mulanya berasal dari syariat Nabi Ibrahim A.S. yang puncaknya kepada kerelaan akan menyembelih anaknya Ismail untuk memenuhi perintah Allah.

Nabi Ibrahim A.S. diuji, apakah cinta dan sayangnya terhadap anaknya melebihi dari cinta dan imannya kepada Allah yang disembahnya. Rupanya Nabi Ibrahim rela berpisah dengan anak kandungnya sendiri, asal saja perintah Allah dapat dijunjung dan ditaati.

Perintah penyembelihan ini diterimanya sejak tiga malam berturut-turut, yaitu tanggal 8, 9, 10 Dzul Hijjah, perintah ini lalu disampaikan kepada putranya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.

فلما بلغ معه السعي قال يا بني انى ارى فى المنام انى اذ بحك فانظرماذا ترى

Artinya :

“Bertanya Ibrahim : Wahai anakku yang kusayang ! Sesungguhnya aku melihat (bermimpi) di dalam tidurku Aku diperintahkan menyembelih engkau, bagaimana barangkali pertimbanganmu ?” (QS – As Shaffat : 102)

Dalam kelanjutan ayat di atas dijelaskan bahwasannya Ismail dengan segera menjawab pertanyaan ayahnya, sebagaimana bunyi ayatnya :

قال يا ابت افعل ما تؤمرستجد نى ان شاء الله من الصا برين

Artinya :

“Wahai ayah yang kucintai ! Laksanakanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepada Ayah, ayah akan mendapati aku Insya Allah dalam ketabahan dan kesabaran” (QS – As Shaffat : 103).

Nabi Ibrahim pun segera melaksanakan perintah Allah menyembelih anaknya, dengan tangannya sendiri, penuh harapan dan tawakal kepada Allah untuk mencapai keredaanNya.

Nabi Ismail dengan tangan terikat, mata tertutup, badan terbaring siap sedia menyerahkan dirinya untuk disembelih sebagai bukti Qurban kepada Allah.

Dengan pisau terhunus lagi tajam, Nabi Ibrahim berlutut sambil meletakkan pisau ke leher anaknya Ismail, dengan mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar, lalu pisau itupun digesekan ke leher Ismail. Ibrahim yakin leher anakanya akan putus tetapi sunggu aneh lehernya tidak apa-apa, kemudian Ibrahim mengulanginya lagi, pada waktu itu Allah perintahkan kepada Jibril untuk mengambil seekor kibas dari surga, dalam keadaan mata tertutup, Ibrahim menyembelih anaknya, darahpun berhamburan. Duhai betapa dahsyatnya cobaan ini ketika Ia melihat yang terpotong bukan anaknya tetapi kibas yang dibawa malaikat, bertakbirlah para malaikat, “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, Nabi Ibrahim menyambutnya “Laa ilaha illallahu Allahu Akbar“, Ismail juga menyambut “Allahu Akbar Walillahilhamdu“.

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia

Penyembelihan qurban menjadi syariat Islam yang abadi sampai akhir jaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Rasulullah SAW bersabda :

الاضحية لصا حبها بكل شعرة حسنة

Artinya :

“Qurban itu, untuk yang membuatnya dibalas Allah dengan pahala setiap helai bulunya satu kebaikan”. (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas memberikan gambaran betapa besar pahala amal qurban. Oleh sebab itu, marilah kita gunakan kesempatan yang baik ini bagi orang-orang yang mampu, berharta, agar melaksanakan amal qurban ini.

Ingatlah hidup pasti mati, harta kekayaan akan ditinggal begitu saja dan hanya amal jugalah yang akan dibawa ke alam baqa. Alangkah baiknya sekiranya umur masih ada, kita hendaknya mengumpulkan bekal untuk kelak di akhirat yakni dengan amal-amal kebajikan, termasuk qurban ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Riwayat Nabi Ibrahim yang telah kita dengan tadi bukan hanya suatu dongeng biasa yang masuk telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan, tetapi adalah mengandung suatu i’tibar yang sangat besar bagi kita, terutama pada saat-saat sekarang.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

نحن نقص عليك احسن القصص بما اوحينا اليك هذا القران وإن كنت من قبله لمن الغا فلين

Artinya :

“Kami ceritakan kepada engkau cerita yang paling bagus, dengan wahyu Kami kepada engkau dalam Al-Qur’an ini, biarpun engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS – Yusuf : 3)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

لقد كان فى قصصهم عبرة لا ولى الا لباب ما كان حد يثا يفترى ولكن تصد يق الذى بين يد يه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون

Artinya :

“Sesungguhnya dalam cerita-cerita mereka itu, didapat pengajaran untuk orang-orang yang berakal. Cerita-cerita itu bukan dongeng yang dibuat-buat saja, tetapi membenarkan apa yang telah terdahulu daripadanya, memberikan penjelasan akan segala sesuatu dan menjadi pimpinan dan rahmat untuk kaum yang beriman”. (QS – Yusuf : 111)

Dengan demikian maka kerelaan berqurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S. tadi hendaklah menjadi contoh kita dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.

Contoh besar yang diberikan oleh keluarga Ibrahim A.S. kepada kita semua adalah ketaatan Ibrahim dan Istri kepada Allah SWT ketika mendengar perintah ini mereka segera melaksanakan tanpa alasan apa-apa. Begitu pula dengan Ismail, dia seorang yang shaleh taat kepada Allah dan orang tuanya.

Semoga contoh mulia ini bisa kita teladani dalam menjalankan perintah Allah SWT, sehingga keluarga kita keluarga yang Saqinah, Mawaddah Warrahmah dan mendapat keampunan dari Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Hadirin jamaah Idul Adha Rahimakumullah…

Secara umum, seluruh kaum muslimin di penjuru dunia semenjak hari Arafah hingga habisnya hari Tasyrik mereka mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih dengan suara yang lantang dan keras penuh keyakinan, memproklamirkan bahwa tidak ada yang lebih besar dan lebih mulia dari pada Allah Tuhan Semesta Alam.

Dengan kedatangan kaum muslimin yang berbondong-bondong, beramai-ramai menuju masjid-masjid, mushalla-mushalla dan tanah-tanah lapang untuk mengerjakan shalat Idul Adha, kemudian melakukan penyembelihan hewan qurban untuk fakir miskin, semua itu membuktikan secara demonstratif ketaaatan mereka kepada Allah dan mengalahkan nafsu egois mereka untuk membantu sesama dengan penuh keikhlasan.

Peristiwa di atas, baik yang secara umum maupun secara khusus tersebut, menunjukkan kepada dunia betapa tingginya syiar Islam dan kuatnya ikatan ukhuwah islamiyah di kalangan kaum muslimin.

Allah berfirman :

ذلك ومن يعظم حرمت الله فهو خيرله عند ربه

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS – Al Hajj : 30)

Dalam ayat berikutnya juga dinyatakan :

ذلك ومن يعظم شعائرالله فا نها من تقوى القلوب

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka  sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati” (QS – Al Hajj : 32)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى وايا كم بما فيه من الا يات والذ كر الحكيم. انه هو البرالرحيم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

انا اعطينك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذ ى امرعبا د ه بتغظيم شعائره فاءنها من تقوى القلوب. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له علا م الغيوب. واشهد ان سيد نا محمدا عبده ورسوله المحمود المحبوب. اللهم صل وسلم على سيد نا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه الذ ين نالون غفران الذ نوب اما بعد فيا ايهاالناس اتقواالله حق تقاته ولاتمو تن الا وانتم مسلمون.

Bolu Pisang dan Es Krim

Menurut Islam, jika seorang ayah wafat dan meninggalkan istri serta anak-anak yang masih dalam tanggungan nafkah, kewajiban nafkah ada pada ahli warisnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Quddamah dalam Al-Mughni, yang artinya :

 “Jika anak-anak tersebut tidak memiliki bapak, kewajiban nafkahnya ada pada ahli warisnya

Oleh karena itu, jika ayah wafat dan meninggalkan istri serta keluarga yang terdiri atas kakek dan saudara dari almarhum, maka yang bertanggung jawab atas nafkah anak ialah seluruh ahli waris yang ada. Siapa saja yang berkontribusi dan berapa kontribusinya, hal tersebut dapat dimusyawarahkan sesuai dengan kondisi keuangan dan kebutuhan finansial anak serta tanggung jawab masing-masing. Semakin besar kontribusi atas nafkah anak-anak ini, maka akan semakin baik.

Berikut ini adalah cerita yang menyentuh hati kita sebagai umat sosial dan dikutip dari grup WhatsApp yang sudah banyak beredar, namun disini kami sajikan dengan tujuan dapat mengambil hikmahnya yang mungkin bisa kita jadikan suri tauladan dalam bermuamallah dengan sesama manusia terutama sesama umat muslim.

Berikut ceritanya :

“Ma, kakak  ranking satu, mana janji mama mau beliin es krim,” rengek Dika putra sulungku. Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas dua SD akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji paling dia hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa.

“Sabar ya, Nak, tunggu ibu gajian tanggal satu,” janjiku, padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah menjadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan  ketika almarhum suami sakit dulu.

Dika cemberut. Aku tahu dia kecewa. Tak banyak pinta anak ini sebenarnya, hanya sebuah es krim ketika ia ranking satu. Tapi bagiku itu barang mahal.

Ah seandainya saja Dika ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian,  ia pasti tak sekecewa ini.

Keterpurukan hidupku bermulai ketika suami yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Tiap Minggu harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS namun kerepotan ini tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk.

Ketika suami akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi.

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil.

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Dika, aku memiliki Anita putri bungsuku yang masih berusia dua tahun. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita.

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bolu pisang buatanku enak.

  (Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Sebuah pesan masuk.

Aku bersorak. Alhamdulillah tak sia-sia mengisi pulsa data beberapa hari yang lalu dan mengaktifkan WA ku. Ada pesanan masuk.

(Bisa Mbak, mau berapa loyang?)

(2 loyang, ngambilnya habis Zuhur bisa?)

(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.

(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya ngambil dari pisangnya saja. Anakku alergi gula.)

(Siap, Mbak. Otw dibuat.)

(Berapa harganya?)

(50.000 Mbak.)

(40.000 saja ya, kan gak pakai gula.)

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 20.000.

(Ya sudah karena Mbak ngambil dua, aku kasih.)

(Oke, tapi aku gak bisa ngambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang itu.)

(Oke siap.)

Aku segera gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi gak perlu beli ke pasar.

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung dua puluh ribu dari penjualan dua loyang bolu pisang.

Sepuluh ribunya bisa buat beli es krim harga lima ribu untuk si sulung dan bungsu dan sisanya untuk tambahan belanja besok.

Setelah sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja.

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar setengah kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 20.000.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang.

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung ada tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti.

Si sulung telah lelah dan merengek sementara si bungsu telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan.

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue.

(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat habis Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi gak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung.)

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja.

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata.

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya?

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah.

Sulungku berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5000 ya Allah.

“Dika gak akan minta es krim lagi Bu, tapi ibu jangan nangis.” Dika kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis.

“Kita pulang, Nak,” ucapku. Dika mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini.

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit, sakit, sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia.

Ya Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah.

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata.

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Tia tetanggaku kulihat telah menunggu.

“Eh, ibunya Dika, dicariin, untung cepat pulang.”

“Ada apa Bu?” tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi gak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku.

“Gini, ibu jangan tersinggung ya.” Bu Tia menatapku.

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku.

“Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi gak tahu yang baik. ”

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan.

“Masa dia ngebeliian anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Dika dan adiknya.” Bu Tia menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku.

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

“Asikkk.” Dika bersorak, aku masih bergeming.

“Lo, yang ibu bawa itu apa?” tanya Bu Tia melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku.

“Bolu pisang Bu, tapi gak manis, kebetulan yang mesan batal. ”

“Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi gak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan.”

“Benar Bu?” Aku bertanya tak percaya.

“Iya, berapa harganya?”

“Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang.”

“Ya sudah.” Bu Tia menyerahkan dua lembar uang merah ke dalam genggamanku.

“Ya Allah Bu ini kebanyakan ,” ucapku.

“Sudah, gak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu.” Bu Tia langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi.

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas.

Bu Tia meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan.

Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca.

Sungguh zolim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim.

Untung saja Fahri putranya bercerita, bila tidak pastilah kezoliman ini akan terus berlangsung.

“Ma, tadi yang juara 1 Dika, tetangga kita yang di ujung itu.” lapor putra sulungnya.

“Bagus dong, les dimana dia?”

“Gak les kok, Ma. Orang dia miskin kok.”

“Hey, gak boleh menghina orang lain.” Bu Tia melotot pada putranya.

“Gak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh Ma, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking satu eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Dika ya , Ma. Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya, Ma.” Fahri bercerita panjang lebar.

Bu Tia terdiam.

Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktiv ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar.

“Ma, bolunya gak ada rasa, kurang enak,” ucap Fachri membuyarkan lamunannya.

“Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah.”

“Ohhh, gitu ya. Tumben mama pesan bolu tawar.”

“Lagi pengen aja.”

Bu Tia menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya.

Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar.

Sepele bagi kita namun berarti bagi mereka.

Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa hanya berteman dengan ubi rebus saja.

Jangan heran menatap binar seseorang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka.

Uang lima puluh ribu yang sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan kind*rj*y dan beraneka jajanan yang habis dalam sekejap itu adalah setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari subuh hingga menjelang Magrib.

Bersedekah itu gak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya. Memberi itu jangan menunggu kaya, saat kekurangan lah justru diri harus lebih bermurah hati.

Beruntunglah bila di sekitar begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. Akherat itu ada dan sudah kah kita menyiapkan hunian di sana?

Pengingat diri agar lebih peka.ingat ini salah satu kerja maqami kesholehan sosial agar peduli tetangga kita.

(Sumber : Grup WA Masjid Al-Anwar, Ahad 09 Februari 2020)