Category: PHBI Al-Anwar

Kegiatan Peringatan Tahun Baru 1441 Hijriah

Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam beberapa daerah yang ada di Indonesia melaksanakan puasa yang sangat dianjurkan, yakni Puasa Asyura. Bahkan tidak hanya melaksanakan puasa saja, orang-orang di beberapa daerah biasanya juga merayakannya dengan membuat makanan spesial yakni bubur asyura.

Bubur asyura sangat unik karena dibuat dari campuran 41 jenis bahan makanan. Biasanya terdiri dari aneka macam sayuran, kacang-kacangan, sampai daging. Jumlah 41 bahan ini harus dicukupi karena sudah jadi tradisi. Tak ada resep pasti dalam membuat bubur ini. Biasanya memang ada beberapa bahan wajib yang selalu digunakan oleh kaum muslim di beberapa tempat, seperti kangkung, jagung manis, wortel, kentang, daun pucuk waluh, dan beberapa bahan lainnya. Bahkan ada yang memiliki ciri khas pada bubur asyura salah satunya adalah disertakannya ceker ayam. Pembuatannya juga memiliki keunikan tersendiri yaitu dibuat seara beramai-ramai dan bisa membentuk beberapa kelompok. Bubur asyura hasil olahan tersebut selanjutnya dibagikan kepada semua warga secara gratis.

Sambutan Ketua Pengurus Masjid Diwakili Oleh Sekretaris Pengurus, Bapak Juni Darmawansyah

Tradisi memasak Bubur Asyura yang selalu dilakukan bersama-sama ini juga dilakukan oleh jamaah Masjid Al-Anwar di Perumahan Bumi Palangka II, Palangka Raya. Jamaah Masjid Al-Anwar pada tanggal 30 Agustus 2020 atau bertepatan dengan tanggal 11 Muharram 1441 H pagi hari sejak pukul 07.30 WIB telah berkumpul di halaman Masjid Al-Anwar dan melakukan persiapan pembuatan bubur asyura tersebut. Jamah laki-laki menyiapkan tempat yang diperlukan dalam proses pembuatannya sedangkan jamaah perempuan berperan sebagai pembuatan bubur asyura dimulai dari penyiapan bahan baku dan memasak sampai dengan penyajiannya.

Pemberian Santunan Pada Anak Yatim Piatu

Tepat bakda shalat Dhuhur, proses pembuatan bubur asyura selesai dilaksanakan dan tibalah saatnya untuk membagikan kepada jamaah Masjid Al-Anwar, Warga Perumahan Bumi Palangka II dan sekitarnya. Namun sebelum dibagikan kepada jamaah, didahului dengan pembacaan doa selamat yang dilakukan di teras Masjid dipimpin oleh Ustadz Muhammad Abdul Nasir.

Proses Memasak Bubur Asyura

Setelah pembagian bubur asyura dan makan bersama dilanjutkan dengan kegiatan memberikan santunan kepada anak yatim sebanyak 24 orang anak yang berasal dari warga sekitar perumahan Bumi Palangka II. Santunan diberikan dalam bentuk bingkisan tali asih dari jamaah Masjid Al-Anwar khususnya Majelis Ta’lim Ibu-Ibu pimpinan Ibu Hj. Rina Syahrani.

Pengurus Masjid Al-Anwar melalui Sekretaris Pengurus Masjid Al-Anwar, Bapak Juni Darmawansyah secara khusus menyampaikan ucapan terimakasih kepada PHBI Masjid Al-Anwar dan Majelis Ta’lim Ibu-Ibu yang telah berkenan menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memeriahkan perayaan Tahun Baru 1441 Hijriah ini, terima kasih juga disampaikan kepada Pengurus Yayasan Al-Anwar yang telah memberikan dukungannya atas pelaksanaan kegiatan ini. Mudah-mudahan seluruh jamaah Masjid Al-Anwar selalu diberikan rezeki yang banyak dan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT dan diajuhkan dari wabah penyakit Covid-19.

Melalui sekretarisnya, Ketua Pengurus Masjid Al-Anwar menyampaikan harapan dan pesan semoga kegiatan seperti ini juga bisa terlaksana pada tahun-tahun mendatang dengan lebih baik lagi, kepada majelis ta’lim Ibu-Ibu agar selalu bersatu dan tetap semangat untuk memajukan pengajian, khususnya majelis ta’lim Ibu-Ibu  Al-Anwar, demikian Juni Darmawansyah mengakhiri.

Hj. Rina Syahrani sebagai ketua Majelis Ta’lim Ibu-Ibu Al-Anwar juga menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dan atensi ibu-ibu pengajian Al-Anwar yang ikut dalam kegiatan santunan terhadap anak yatim yang merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan Majelis Ta’lim ibu-ibu Al-Anwar. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat berbuat banyak untuk anak-anak yatim yang berada di lingkungan perumahan Bumi Palangka II dan Sekitarnya khususnya bagi anak-anak yatim dari jamaah Masjid Al-Anwar.

Menyiapkan Bubur yang Akan Dibagikan

Konon ceriteranya bahwa tradisi Bubur Asyura ini berkaitan dengan kisah ketika Nabi Muhammad masih hidup. Saat itu Perang Badar sedang berlangsung. Usai perang, jumlah prajurit Islam menjadi lebih banyak. Saat itu seorang sahabat Nabi Muhammad memasak bubur. Namun jumlah makanan yang dibuatnya tidak mencukupi karena jumlah prajurit yang begitu banyak. Akhirnya Nabi Muhammad memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkan bahan apa saja yang tersedia untuk kemudian dicampurkan ke bubur tersebut agar jumlahnya cukup dan bisa didistribusikan pada semua prajurit.

Cerita lainnya terkait dengan asal usul bubur asyura adalah pada saat Nabi Nuh A.S. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh A.S. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur asyura. Yaitu bubur yang dibuat untuk menghormati hari ‘asyura’ yang dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia diterjemahkan sebagai bubur untuk selamatan.

Bubur Siap Dibagikan Untuk Jamaah dan Warga Sekitar

Bubur asyura merupakan pengejawantahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah SWT. Namun dibalik itu bubur asyura selain sebagai simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa A.S. dan hancurnya bala tentara Fir’aun.

Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Banyaknya keistimewaan yang ditemukan dalam bulan Muharram (hari asyura) maka dianjurkan bagi semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Bubur hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, sebagai awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur asyura yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan dan dibagikan kepada semua warga sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

Untuk foto-foto kegiatan pada kegiatan memeriahkan Tahun Baru 1441 H yang lainnya silahkan klik DISINI. Silahkan berikan komentar, masukan dan kritik Anda pada form di bawah ini dan terimakasih atas kunjungan Anda semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua, Amin…

Sejarah dan Makna Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Isra Miraj diperingati setiap tahunnya oleh umat Islam. Tetapi, apakah makna dari perjalanan suci itu?

Isra Miraj yang setiap tahun diperingati oleh umat Islam adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha yang berada di lapisan langit ketujuh.

Isra Miraj dilakukan hanya dalam waktu satu malam dengan mengendarai buraq, yaitu makhluk yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menuju Sidratil Muntaha dengan kecepatan yang luar biasa.

Nabi Muhammad SAW Bertemu dengan Nabi lain.

Pada perjalanannya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi lainnya. Saat membuka pintu langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam. Lalu, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya.

Beranjak ke langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf. Setelah itu, di langit keempat dan kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris serta Nabi Nabi Harun. Naik ke langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa.

Sampai di lapisan langit ke tujuh, Nabi Muhammad disambut oleh Nabi Ibrahim, yang sekaligus menemaninya ke Sidratul Muntaha. Sesampainya disana, Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan salat 50 waktu dalam sehari semalam.

Setelah mendapat wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam dan kembali bertemu dengan Nabi Musa. Mendengar Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah salat 50 waktu dalam sehari dari Allah SWT, Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk kembali ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan.

Nabi Muhammad SAW Kembali Ke Sidratul Muntaha.

Nabi Muhammad mengikuti saran Nabi Musa dan kembali lagi ke Sidratul Muntaha. Permohonan keringanan Nabi Muhammad dikabulkan oleh Allah SWT dengan dikuranginya 5 salat dalam sehari.

Kemudian, Nabi Muhammad SAW kembali turun ke Nabi Musa dan mendapat saran yang sama. Nabi Musa masih merasa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu mengerjakan salat sebanyak 45 waktu dalam sehari.

Nabi Muhammad SAW lalu kembali lagi ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan. Lalu, Allah mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, Beliau turun untuk menemui Nabi Musa lagi.

Masih mendapatkan saran yang sama, Nabi Muhammad sampai bolak-balik antara Sidratul Muntaha dan langit keenam berkali-kali. Akhirnya, Allah memerintahkan kepada seluruh hambanya lewat Nabi Muhammad SAW untuk mengerjakan salat 5 waktu dalam sehari.

Sebenarnya, Nabi Musa masih menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan kembali. Namun, Nabi Muhammad SAW merasa malu kepada Allah SWT karena bolak-balik meminta keringanan. Beliau menerima perintah Allah untuk menjalankan salat 5 waktu dalam sehari.

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ini mungkin tidak terpikir oleh logika dan nalar manusia biasa. Tetapi, wajib untuk dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Semoga peristiwa Isra Miraj di atas dapat membuat Anda semakin mengetahui sejarah Islam dan asal usul salat 5 waktu.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Menjaga Amal

Khotbah Jum’at, 31 Januari 2020
Oleh : Ust. Azwari Purba

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاةُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِىْ اَنْزَلَ اْلقُرْاَنَ هُدًى لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَرَحْمَةً. وَاَتَمَّ بِهِ عَلَى اُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَفْضَلَ نِعْمَةٍ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَنْقَذَ نَامِنْ ضَلَالَةٍ. وَسَلَكَ بِنَا طَرِيْقَ اْلهِدَايَهِ. وَاَخْرَجَنَامِنَ الظُّلُمِاتِ اِلَى تُوْرِالتَّوْحِيْدِ وَاْلحُرِّيَةِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً وَسَلَامًادَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. (اَمَّابَعْدُ)

يَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Marilah kita senantiasa memuji allah Subhanahu wa ta’ala yang menjadikan hidup dan mati, untuk menguji hamba-hamba-Nya sehingga terbedakan siapa yang paling baik amalannya di antara mereka. Begitu pula kita memuji Allah Subhanahu wa ta’ala, Rabb yang menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan memuliakan hamba-hamba-Nya yang menaati-Nya. Maka, sungguh berbahagialah orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Dan sungguh merugilah orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya, Amin Ya Rabbal Alamin…

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia ini ibarat tempat penyeberangan yang sedang dilalui oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap orang akan melewati dan meninggalkannya, lalu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan dunia ini sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan amalan. Maka setiap orang yang beramal, dia akan melihat balasannya. Dan orang yang lalai akan menyesali perbuatannya. Setiap orang yang menjalani kehidupan dunia ini akan ada saat berakhirnya. Hari pembalasan pasti akan datang, dan apa saja yang akan datang adalah sesuatu yang dekat. Maka, janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang sementara ini, sehingga melalaikan dari kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti.

Ingatlah, bahwa kematian adalah suatu kepastian yang akan menimpa seseorang. Kemudian akan memisahkan dirinya dari keluarga, harta, serta tempat tinggalnya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberitakan melalui firman-Nya, bahwa diantara manusia ada yang akan mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kabar gembira saat kematiannya, serta ada pula yang merasakan ketakutan yang luar biasa. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang bahagia saat kematiannya dalam firman-Nya :

Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan berbahagialah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian’. Kami adalah penolong-penolong kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalam (surga) kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta“. (Q.S Fushilat : 30-31)

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Sungguh, kita semua tentu mengharapkan kabar gembira di saat malaikat maut hendak mencabut nyawa kita. Karena dengan itu seseorang akan mengawali kehidupan bahagia di alam akhiratnya. Dimulai dengan kenikmatan di alam kuburnya dan kemudahan-kemudahan yang akan terus dialami pada kehidupan akhiratnya.

Keutamaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala karuniakan ini akan dirasakan oleh orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga menerima dan menjalankan syariat-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama yang mengikuti jejaknya.

Adapun orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga beribadah kepada selain-Nya dan menyelisihi jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta jalan para ulama yang mengikutinya, maka dia akan merasakan siksa yang sangat pedih. Dimulai dari saat kematiannya dan begitu pula ketika berada di alam kuburnya serta kejadian-kejadian berikutnya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir dan akan datang saatnya hari kebangkitan. Seluruh manusia, sejak yang pertama kali diciptakan hingga yang terakhir kali diciptakan akan dibangkitkan dari alam kuburnya, serta akan dikumpulkan di padang masyhar. Selanjutnya kehidupan akhirat akan berujung pada dua tempat tinggal yang sesungguhnya, yaitu surga atau neraka. Maka diantara manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, akan menjadi penduduk surga dan dikatakan kepada mereka :

كُلُواوَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِى اْلأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Makan dan minumlah kalian dengan penuh kesenangan disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (saat di dunia)“. (Q.S – Al-Haqqah : 24)

Sementara yang lainnya akan menjadi penduduk neraka. A’adzanallahu waiyyakum minannaar (semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari siksa api neraka). Mereka sebagaimana dalam firman-Nya, akan menyesal di akhirat kelak dengan mengatakan :

أَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَى عَلَى مَا فَرَّطتُ فِى جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِيْنَ

Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan aku sungguh dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokan (agama Allah)“. (Q.S – Az-Zumar : 56).

Akhirnya, marilah kita berlomba-lomba dalam beramal shalih dalam kehidupan yang singkat ini. Janganlah kita menjadi orang yang memiliki sifat sombong sehingga menolak kebenaran yang datang kepada kita. Begitu pula, janganlah kita menjadi orang-orang yang mendahulukan dunia dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga berani berbicara dan mengamalkan agama tanpa bimbingan ulama. Sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya.

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)“. (Q.S – An-Nazi’at  : 37-41).

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung, sehingga mendapatkan surga-Nya dan diselamatkan dari siksa api neraka.

Amin, Amin Ya Rabbal Alamin…

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمٍ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّاالَّذِ يْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْاالصَّلِحَتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْا بِالصَّبْرِ.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّىْ وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اَقُوْلُ هَذَا وَاسْتَغِفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ.

=== === ===

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله. اِتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلَا ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللَّهُمَّ صَلِ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْ مِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَا دَاللهُ. إِنَّ اللهَ يَأْ مُرُكُمْ بِالْعَدْ لِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَائِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَا ءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُاللهُ أَكْبَرُ

Hikmah dalam Ibadah Qurban

Seperti kita semua sudah ketahui bahwasannya Ibada Qurban banya menuai hikmah dan banyak memberikan manfaat. Diantara banyaknya hikmah dan manfaat berqurban adalah :

1) Membuktikan dan Menempatkan Cinta Kita kepada Tuhan Sebagai Cinta Teragung

Sejak diperintahkan, apa yang diminta diqurbankan adalah barang atau sesuatu yang sangat dicintai atau disukai, yang menunjukkan bahwa Allah sedang menguji apakah seorang hamba itu benar atau sungguh-sungguh mencintai Allah diatas segalanya, mau mengorbankan apa saja untuk yang dicintainya, sekaligus menegaskan bahwa Allah adalah pemilik semuanya termasuk apa-apa yang ada/dititipkan pada manusia.

2) Sebagai Bekal Taqwa

Manusia hidup di dunia harus mencari bekal taqwa untuk keselamatan di akhiratnya, dengan menjalankan perintah Allah SWT, dan menjauhi larangan-Nya. Manusia yang bertaqwa akan tumbuh perasaannya bahwa ia adalah hamba atau abdi dari Tuhannya. Berqurban merupakan bentuk ketaatan dan tunduk atas perintah Allah SWT.

3) Sarana Mendekatkan Diri pada Tuhan

Qurban mempunyai akar kata qaruba, yang membentuk kata: qurb (dekat), taqarrub (mendekatkan diri), aqriba’ (kerabat). Seiring bertambahnya usia akan bertambah dekat pula dengan kematian, artinya makin dekat perjumpaan dengan Tuhan, dengan qurban minimal menjadikan kita ingat dan insaf, yang pada akhirnya pasti akan berjumpa dengan-Nya dalam kebaikan.

4) Mengharapkan Kesucian Diri dan Hartanya

Setiap kebaikan adalah sedekah, yang berfungsi untuk mensucikan diri dan harta. Ibadah Kurban adalah amal kebaikan yang amat disukai Allah di Hari Raya Idul Adha (HR. Tirmidzi)

5) Sebagai Penebus Dosa untuk Mmendapatkan Pengampunan (HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban)

“Hai Fatimah, berdirilah di sisi qurbanmu dan saksikanlah ia, sesungguhnya tetesan darahnya yang pertama itu pengampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu”

6) Memupuk Sifat Mahmudah dan Memupuskan Sifat Mazmumah

Melaksanakan qurban dengan penuh penghayatan dapat memupuk sifat mahmudah yang berupa ketaatan, ketundukan atas perintah-Nya, pemurah terhadap sesama, bertaubat, menambah rasa syukur, dan lainnya. Disamping itu juga memupuskan sifat mazmumah seperti cinta dunia, kikir, pelit, sombong, dendam, hasad dengki, dan lain-lainnya.

7) Meningkatkan Kasih Sayang

Tidak dipungkiri bahwa qurban bermanfaat bagi sesama, menumbuhkan dan meningkatkan kasih sayang, utamanya antara yang kaya dan miskin, merekatkan hubungan yang renggang, wujud kebersamaan dan kerukunan, karena masyarakat saling bersilaturahim.

8) Syiar Islam, Sunnah Nabi Ibrahim A.S.

Ibadah qurban adalah syiar Islam yang melestarikan millah atau sunnah Nabi Ibrahim A.S., Nabi yang berjuluk Khalilullah (orang yang sangat dekat dengan Tuhan)

9) Pahala dan Kemudahan dalam Meniti Titian Shirat

“Tiada suatu amalan yang dilakukan oleh manusia pada Hari Raya Idul Adha, yang lebih dicintai Allah selain daripada menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu pada hari kiamat kelak akan datang berserta dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya dan kuku-kukunya, dan sesungguhnya sebelum darah qurban itu menyentuh tanah, ia (pahalanya) telah diterima disisi Allah, maka beruntunglah kamu semua dengan (pahala) qurban itu.” (HR.Al-Tarmuzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim),  dalam riwayat lain “Muliakanlah qurban kamu karena ia menjadi tunggangan kamu di titian (shirat) pada hari kiamat.”

Bagi jamaah masjid Al-Anwar perumahan Bumi Palangka II dan sekitarnya yang meniatkan untuk berqurban pada tahun ini dapat mendownload Formulir Sebagai Peserta DISINI atau pada dokumen dibawah ini atau bisa juga DISINI (Tahun 1441 H) dan setelah mengisi dengan data peserta ibadah qurban dapat menyerahkannya kepada Panitia Ibadah Qurban Masjid Al-Anwar dengan ketentuan pembayaran dapat diangsur setiap satu bulan sekali, makasimal angsuran selama 10 (sepuluh) bulan atau dibayar secara tunai langsung lunas.

Berikut ini Formulir Peserta Qurban Semua Tahun

Sumber : http://www.dompetdhuafa.org/

Memelihara Silaturahmi dalam Kasih Sayang dan Kemenangan

Oleh : Ust. Drs. Ahmad Hardiani

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الَلهُ اَكْبَرْ 9× اَللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرَا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَثِيْرَا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى جَعَلَ الْاَعْيَا دَ بِا الْاَفْرَاحِ وَالسُّرُوْرِ وَضَاعَفَ لِلْمُطِيْعِيْنَ جَزِيْلَ الْاُ جُوْرِ وَكَمَلَ الضِّيَا فَةَ فِى يَوْمِ الْعِيْدِ لِعُمُوْمِ الْمُؤْ مِنِيْنِ بِسَمْعِيْهِمُ الْمَشْكُوْرُ فَسُبْحَانَ مَنْ حَرَمَ صَوْمَهُ وَاَوْجَبَ فِطْرَهُ وَحْذً رَفِيْهِ مِنَ الْغُرُوْرِ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْعَفُوَّالْغَفُوْرُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَ نَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْحَبِيْبُ الشَّكُوْرُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َوَعَلَا اَلِهِ وَصَحْبِهِ الذَّ يْنَ يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ. اَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَا دَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَّاىَ بِتَقْوَى اللهِ وَاصْبِرُواوَرَا بِطُوْا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Hadirin Jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah…

Dipagi hari yang penuh berkah dan ampunan ini, marilah kita selalu bertasbih, bertakbir sebagai tanda syukur kita kepada Allah SWT. Marilah kita selalu bertaqwa kepada Allah SWT, karena Ialah pencipta kita dan alam semesta.

Hari ini adalah hari keampunan, hari kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya. Kita telah berhasil melaksanakan tugas yang cukup berat yaitu puasa Ramadhan sehingga Rasulullah SAW menyebutkan di dalam haditsnya tentang keberuntungan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَاتَقَدَّ مَ مِنْ ذَ نْبِهِ

“Barang siapa yang puasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan pasti diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

Sungguh Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

اِنَّ الله غَفُوْرٌرَّحِيْمٌ (الفرقان : 6)

Sejak tenggelamnya matahari di kaki langit belahan barat di akhir bulan Ramadhan, Takbir, Tahmid dan Tasbih berkumandang bergema di seluruh belahan dunia. Kita bergembira dan senang karena telah berhasil memenangkan perang melawan hawa nafsu yaitu dengan melaksanakan puasa Ramadhan di siang hari dan shalat di malam hari. Kita laksanakan beberapa rangkaian ibadah shalat tarawih, shalat tahajjud, tadarus Al-Qur’an dimalam hari sehingga dalam Al-Qur’an Allah memuji orang-orang yang bertaqwa.

وَسَارِعُوْالِىَ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْاَرْضُ أُعِدَّ تْ لِلْمُتَّقِيْنَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa” (QS. Ali Imran : 133).

Inilah hadiah yang diberikan Allah kepada orang-orang yang bertaqwa.

الَلهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Hadirin wal hadirat Rahimakumullah…

Kini kita berada dalam suasana Idul Fitri yang berarti kembali kepada kesucian.

Keberhasilan dan kemenangan yang kita peroleh dalam usaha melaksanakan perintah Allah dan usaha kita menundukkan hawa nafsu adalah keberuntungan yang besar dan semua kemenangan yang kita peroleh adalah semata-mata karena pertolongan dari Allah SWT.

Kemenangan yang kita rebut dan kita raih ini marilah kita pertahankan dengan sungguh-sungguh karena iblis dan hawa nafsu selalu menggoda kita agar kita tersesat dari jalan yang lurus.

Janganlah sampai terlena dan mudah tergelincir oleh bujuk rayu setan dan iblis. Setan itu adalah nyata-nyata musuh kita maka anggaplah ia sebagai musuh yang harus kita waspadai.

Dalam surah Fathir Ayat 6 Allah SWT berfirman :

اِنَّ الشَّيْطَنَ لَكُمْ عَدُ وٌّ فَا تَّحِذُ وْهُ عَدُوَّ

Sesungguhnya Setan itu musuhmu untuk itu perlakukanlah ia sebagai musuh” (QS. Fathir : 6)

Kemudian diayat lain Allah berfirman

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَا مَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى.  فَاِنَّ الْجَنَّةَ هِىَ الْمَأْ وَاى

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An-Naziaat : 40-41).

Hadirin kaum muslimin jamaah shalat Idul Fitri Rahimakumullah..

Dimalam hari raya yang penuh rahmat dan penuh berkah kita melihat suasana yang mempesona nampak sinar iman pada masyarakat kita dengan hilir mudik orang-orang tua dan anak-anak, laki-laki dan perempuan bersama-sama mengantar zakat fitrah sebagai lambang kasih sayang diantara kita.

Nampaklah persaudaraan antara yang kaya dan yang miskin, saling peduli, saling tolong menolong sehingga tidak ada lagi dihari ini orang kelaparan, tidak ada lagi orang menangis karena tidak mempunyai uang.

Buah Ramadhan adalah Idul Fitri suci kembali kepada kesucian sehingga Nabi besar Muhammad SAW menyebutkan dalam sabdanya :

رَمَضَانُ اَوَلُهُ رَحْمَةٌ وَوَسَطُهُ مَغْفِرَهُّ وَاَخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النِّيْرَ انِ

Awal Ramadhan merupakan rahmat pertengahannya penuh keampunan dan akhirnya sebagai pembebas dari api neraka“.

الَلهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Idul Fitri yang penuh berkah ini marilah kita pergunakan sebaik-baiknya untuk mempererat tali persaudaraan, saling mengunjungi, saling menghalalkan, saling memaafkan, mungkin dulu ada salah paham karena beda pendapat, dulu tali persaudaraan terputus karenanya maka hari ini yang paling baik kita mengunjungi untuk saling memaafkan apalagi bagi yang orang tuanya masih hidup datanglah kepadanya untuk bersimpuh sujud salam kepadanya meminta do’a kepadanya, hari ini adalah hari terkabulnya do’a maka marilah kita saling mendo’akan.

Dalam sebuah hadits di ceritakan dari Salman bin Yazid bahwa Abdullah bin Abu Aufa beliau berkata :

“Kami duduk pada sore hari di hari arafah di dekat Nabi SAW. Nabi SAW bersabda : tidak duduk denganku orang-orang yang memutuskan kekerabatan hendaklah ia berdiri dari kami. Tidak seorangpun yang berdiri kecuali seorang laki-laki yang berada di akhir lingkaran.Tak lama kemudian dia datang dan Nabi bertanya kepadanya : Apa yang terjadi pada kamu? tidak berdiri seorangpun dari lingkaran ini selain kamu. Dia menjawab, saya mendengar apa yang Engkau sabdakan, lalu saya mendatangi bibi dari dari Ibu yang memutuskan tali persaudaraan dengan saya. Dia bertanya mengapa kamu datang, tidak biasanya kamu berbuat demikian. Maka saya beri tahu kepadanya apa yang Engkau sabdakan. Dia meminta maaf kepadaku dan sayapun meminta maaf kepadanya. Maka Nabi bersabda : kamu berbuat baik duduklah, ingat sesungguhnya rahmat tidak turun kepada kaum yang diantara mereka ada orang yang memutuskan kekerabatan“.

الَلهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Betapa indah ajaran Islam dalam memuliakan kekerabatan, memuliakan persaudaraan. Ajaran Islam mengajarkan agar saling menyayangi saling menghormati saling tolong menolong sehingga dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW bersabda :

مَا مِنْ حَسَنَةٍ اَعْجَلُ ثَوَابًا مِنْ صَلَةِ الرَّحِمِ وَمَا مِنْ دَنْبٍ أَجْدَ رُاَنْ يُعَجِّلَ اللهُ الِصَا حِبِهِ الْعُقُوْ بَةَ فِى الدُّ نْيَا مَعَ مَا يُدَّ خَرُفِى الْاَحِرَةِ الْبَغْىِ وَقَطْعِ الرَّحِيْمِ

Tidak ada kebaikan sama sekali yang lebih segera pahalanya dari pada silaturrahmi, dan tidak ada dosa yang lebih layak jika Allah menyegerakan siksa bagi pelakunya di dunia beserta apa yang di simpan di akhirat dari pada aniaya dan memutuskan tali persaudaraan“.

Kaum muslimin jamaah Shalat Idul Fitri Rahimakumullah…

Setelah Ramadhan ini berakhir mari kita teruskan kebaikan-kebaikan di bulan Ramadhan janganlah berhenti beribadah ketika selesai Ramadhan teruskanlah shalat berjamaah, shalat malam, membaca Al-Qur’an, biasakanlah puasa-puasa sunat, puasa 6 hari pada bulan Syawal puasa Senin-Kamis dan lain-lain agar kita selalu mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat. Janganlah setelah Ramadhan berakhir, berakhir juga beribadahnya, ini artinya bukan kembali suci tapi kembali kotor, sehingga Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl Ayat 92 :

وَلَا تَكُوْ نُوْاكَا لَّتِى نَقَضَتْ عَزْ لَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَثًا (النحل: 92)

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai-berai kembali” (QS. An-Nahl : 92)

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّا كُمْ مِنَ الْعَا ئِدِ يْنَ الْفَا ئِزِيْنَ الْمَقْبُوْ لِيْنِ. وَبَا رَكَ لَنَا فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنَا بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَذِ كْرِاْلحَكِيْمِ. اِنَّهُ هُوَالْبَرُّالرَّءُ وْفُ الرَّحِيْمُ

اَعُوْذُ بِا اللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمُ

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى. وَذَكَرَاسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُالرَّاحِمِيْنَ

— oOo —