Tag: al anwar

Kegiatan Peringatan Tahun Baru 1441 Hijriah

Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam beberapa daerah yang ada di Indonesia melaksanakan puasa yang sangat dianjurkan, yakni Puasa Asyura. Bahkan tidak hanya melaksanakan puasa saja, orang-orang di beberapa daerah biasanya juga merayakannya dengan membuat makanan spesial yakni bubur asyura.

Bubur asyura sangat unik karena dibuat dari campuran 41 jenis bahan makanan. Biasanya terdiri dari aneka macam sayuran, kacang-kacangan, sampai daging. Jumlah 41 bahan ini harus dicukupi karena sudah jadi tradisi. Tak ada resep pasti dalam membuat bubur ini. Biasanya memang ada beberapa bahan wajib yang selalu digunakan oleh kaum muslim di beberapa tempat, seperti kangkung, jagung manis, wortel, kentang, daun pucuk waluh, dan beberapa bahan lainnya. Bahkan ada yang memiliki ciri khas pada bubur asyura salah satunya adalah disertakannya ceker ayam. Pembuatannya juga memiliki keunikan tersendiri yaitu dibuat seara beramai-ramai dan bisa membentuk beberapa kelompok. Bubur asyura hasil olahan tersebut selanjutnya dibagikan kepada semua warga secara gratis.

Sambutan Ketua Pengurus Masjid Diwakili Oleh Sekretaris Pengurus, Bapak Juni Darmawansyah

Tradisi memasak Bubur Asyura yang selalu dilakukan bersama-sama ini juga dilakukan oleh jamaah Masjid Al-Anwar di Perumahan Bumi Palangka II, Palangka Raya. Jamaah Masjid Al-Anwar pada tanggal 30 Agustus 2020 atau bertepatan dengan tanggal 11 Muharram 1441 H pagi hari sejak pukul 07.30 WIB telah berkumpul di halaman Masjid Al-Anwar dan melakukan persiapan pembuatan bubur asyura tersebut. Jamah laki-laki menyiapkan tempat yang diperlukan dalam proses pembuatannya sedangkan jamaah perempuan berperan sebagai pembuatan bubur asyura dimulai dari penyiapan bahan baku dan memasak sampai dengan penyajiannya.

Pemberian Santunan Pada Anak Yatim Piatu

Tepat bakda shalat Dhuhur, proses pembuatan bubur asyura selesai dilaksanakan dan tibalah saatnya untuk membagikan kepada jamaah Masjid Al-Anwar, Warga Perumahan Bumi Palangka II dan sekitarnya. Namun sebelum dibagikan kepada jamaah, didahului dengan pembacaan doa selamat yang dilakukan di teras Masjid dipimpin oleh Ustadz Muhammad Abdul Nasir.

Proses Memasak Bubur Asyura

Setelah pembagian bubur asyura dan makan bersama dilanjutkan dengan kegiatan memberikan santunan kepada anak yatim sebanyak 24 orang anak yang berasal dari warga sekitar perumahan Bumi Palangka II. Santunan diberikan dalam bentuk bingkisan tali asih dari jamaah Masjid Al-Anwar khususnya Majelis Ta’lim Ibu-Ibu pimpinan Ibu Hj. Rina Syahrani.

Pengurus Masjid Al-Anwar melalui Sekretaris Pengurus Masjid Al-Anwar, Bapak Juni Darmawansyah secara khusus menyampaikan ucapan terimakasih kepada PHBI Masjid Al-Anwar dan Majelis Ta’lim Ibu-Ibu yang telah berkenan menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memeriahkan perayaan Tahun Baru 1441 Hijriah ini, terima kasih juga disampaikan kepada Pengurus Yayasan Al-Anwar yang telah memberikan dukungannya atas pelaksanaan kegiatan ini. Mudah-mudahan seluruh jamaah Masjid Al-Anwar selalu diberikan rezeki yang banyak dan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT dan diajuhkan dari wabah penyakit Covid-19.

Melalui sekretarisnya, Ketua Pengurus Masjid Al-Anwar menyampaikan harapan dan pesan semoga kegiatan seperti ini juga bisa terlaksana pada tahun-tahun mendatang dengan lebih baik lagi, kepada majelis ta’lim Ibu-Ibu agar selalu bersatu dan tetap semangat untuk memajukan pengajian, khususnya majelis ta’lim Ibu-Ibu  Al-Anwar, demikian Juni Darmawansyah mengakhiri.

Hj. Rina Syahrani sebagai ketua Majelis Ta’lim Ibu-Ibu Al-Anwar juga menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian dan atensi ibu-ibu pengajian Al-Anwar yang ikut dalam kegiatan santunan terhadap anak yatim yang merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan Majelis Ta’lim ibu-ibu Al-Anwar. Beliau juga menyampaikan permohonan maaf karena belum dapat berbuat banyak untuk anak-anak yatim yang berada di lingkungan perumahan Bumi Palangka II dan Sekitarnya khususnya bagi anak-anak yatim dari jamaah Masjid Al-Anwar.

Menyiapkan Bubur yang Akan Dibagikan

Konon ceriteranya bahwa tradisi Bubur Asyura ini berkaitan dengan kisah ketika Nabi Muhammad masih hidup. Saat itu Perang Badar sedang berlangsung. Usai perang, jumlah prajurit Islam menjadi lebih banyak. Saat itu seorang sahabat Nabi Muhammad memasak bubur. Namun jumlah makanan yang dibuatnya tidak mencukupi karena jumlah prajurit yang begitu banyak. Akhirnya Nabi Muhammad memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkan bahan apa saja yang tersedia untuk kemudian dicampurkan ke bubur tersebut agar jumlahnya cukup dan bisa didistribusikan pada semua prajurit.

Cerita lainnya terkait dengan asal usul bubur asyura adalah pada saat Nabi Nuh A.S. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh A.S. bertanya kepada pada umatnya “masihkah ada bekal yang tersisa untuk dimakan?” kemudian mereka menjawab “masih ya Nabi” Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang. Karena itulah kita mengenal bubur asyura. Yaitu bubur yang dibuat untuk menghormati hari ‘asyura’ yang dalam beberapa bahasa daerah di Indonesia diterjemahkan sebagai bubur untuk selamatan.

Bubur Siap Dibagikan Untuk Jamaah dan Warga Sekitar

Bubur asyura merupakan pengejawantahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah SWT. Namun dibalik itu bubur asyura selain sebagai simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa A.S. dan hancurnya bala tentara Fir’aun.

Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Banyaknya keistimewaan yang ditemukan dalam bulan Muharram (hari asyura) maka dianjurkan bagi semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Bubur hanyalah perlambang bahwa bulan Muharram, sebagai awal tahun baru Hijrah merupakan momentum untuk memperkokoh persaudaraan. Karena sejatinya bubur asyura yang telah dimasak tak mungkin disembunyikan, pastilah untuk dihidangkan dan dibagikan kepada semua warga sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.

Untuk foto-foto kegiatan pada kegiatan memeriahkan Tahun Baru 1441 H yang lainnya silahkan klik DISINI. Silahkan berikan komentar, masukan dan kritik Anda pada form di bawah ini dan terimakasih atas kunjungan Anda semoga dapat memberikan manfaat untuk kita semua, Amin…

Menuju Keridhaan Allah SWT

Ridha merupakan bentuk infinitive (mashdar) dari radhiya-yardha yang diartikan sebagai rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qanaah) berhati lapang.

Ridha adalah sesuatu perbuatan kita yang kita lakukan untuk membuat Allah senang dan Allah meridhai apa yang kita perbuat atau kita lakukan.

Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. Sedangkan ridha Allah kepada hambaNya berarti Dia melihat dan menyukai hambaNya yang menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dimensi ridha ada dua, pertama adalah Ridha billah atau rela dan cinta kepada Allah yang berarti bersedia mengimani dan menjadikanNya sebagai Dzat yang wajib diibadahi, tidak menyekutukanNya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariatNya. Ridha yang kedua adalah Ridha ‘anillah yang berarti sebagai hamba menerima ketentuan, takdir, rezeki, dan segala sesuatu yang ditetapkan olehNya.

Keridhaan yang dimaksudkan bukan berarti seorang hamba itu menyerah atau pasrah dengan yang ada tanpa berusaha, berdoa dan bertawakal, justru sebaliknya hamba yang ridha diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa memohon pada Allah sebagai yang maha berkuasa atas segala sesuatu.

Ridha kepada Allah mengharuskan seorang hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan mentaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladananya; menjadikan Islam sebagai agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya.

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus ditapaki hamba. Pertama, Ridha Bi Syar’illah (Syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh dedikasi.

Kedua, Ridha Bi Qadha’illah (Ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yang telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat keimanan seseorang.

Ketiga, Ridha Bi Rizqillah (Rezeki Allah)  berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.

Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat.

Berkenaan dengan kegiatan untuk menuju keridhaan Allah SWT maka pada bulan Dzulhijjah kita tidak asing lagi dengan kegiatan ibadah qurban yang dilaksanakan oleh semua umat muslim di dunia, karena salah satu tujuan dari kegiatan berqurban adalah untuk mencapai keridhaan Allah SWT tersebut. Hal ini pula yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Ahmad Hardiani dalam khotbah shalat Idul Adha pada tahun 1441H atau 2020M yang bertepatan dengan Hari Jum’at tanggal 31 Juli 2020. (Dinarasikan dari Berbagai Sumber)

Adapun khotbah Idul Adha yang disampaikan beliau sebagaimana ditulis ulang di bagian bawah ini atau dapat di download disini.

Syariat Menuju Keridhaan Allah SWT

Oleh : Ust. Drs. Ahmad Hardiani

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Sejak fajar menyingsing di pagi hari ini, sampai terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah nanti, atauyang dinamakan Hari-Hari Tasyriq selama 4 hari berturut-turut, kita berada dalam suasana ‘IdulAdha, ‘Id yang terbesar dalam Islam, ‘Id yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat Islam yang telah bertaqwa kepada Allah SWT.

Pada hari ini, kita disuruh bershalat ‘Idul Adha dan menyembelih Qurban, sebagaimana firma Allah dalam Al-Qur’an :

انا اعطيناك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. (الكوثر

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenti kamu dialah yang terputus”. (QS- Al Kautsar : 1-3).

Semoga shalat ‘Id yang baru saja kita laksanakan bersama-sama diterima di sisi Allah Yang Maha Esa serta memberi kesan yang mendalam untuk ketenteraman jiwa dan kekuatan Iman di dalam menempuh kehidupan dunia ini. Semoga kita dalam kasih sayangnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

Sesudah shalat ‘Id ini kita diperintahkan oleh Allah melaksanakan syariat qurban, yakni dengan menyembelih hewan, seperti lembu atau kambing.

Qurban pada mulanya berasal dari syariat Nabi Ibrahim A.S. yang puncaknya kepada kerelaan akan menyembelih anaknya Ismail untuk memenuhi perintah Allah.

Nabi Ibrahim A.S. diuji, apakah cinta dan sayangnya terhadap anaknya melebihi dari cinta dan imannya kepada Allah yang disembahnya. Rupanya Nabi Ibrahim rela berpisah dengan anak kandungnya sendiri, asal saja perintah Allah dapat dijunjung dan ditaati.

Perintah penyembelihan ini diterimanya sejak tiga malam berturut-turut, yaitu tanggal 8, 9, 10 Dzul Hijjah, perintah ini lalu disampaikan kepada putranya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.

فلما بلغ معه السعي قال يا بني انى ارى فى المنام انى اذ بحك فانظرماذا ترى

Artinya :

“Bertanya Ibrahim : Wahai anakku yang kusayang ! Sesungguhnya aku melihat (bermimpi) di dalam tidurku Aku diperintahkan menyembelih engkau, bagaimana barangkali pertimbanganmu ?” (QS – As Shaffat : 102)

Dalam kelanjutan ayat di atas dijelaskan bahwasannya Ismail dengan segera menjawab pertanyaan ayahnya, sebagaimana bunyi ayatnya :

قال يا ابت افعل ما تؤمرستجد نى ان شاء الله من الصا برين

Artinya :

“Wahai ayah yang kucintai ! Laksanakanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepada Ayah, ayah akan mendapati aku Insya Allah dalam ketabahan dan kesabaran” (QS – As Shaffat : 103).

Nabi Ibrahim pun segera melaksanakan perintah Allah menyembelih anaknya, dengan tangannya sendiri, penuh harapan dan tawakal kepada Allah untuk mencapai keredaanNya.

Nabi Ismail dengan tangan terikat, mata tertutup, badan terbaring siap sedia menyerahkan dirinya untuk disembelih sebagai bukti Qurban kepada Allah.

Dengan pisau terhunus lagi tajam, Nabi Ibrahim berlutut sambil meletakkan pisau ke leher anaknya Ismail, dengan mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar, lalu pisau itupun digesekan ke leher Ismail. Ibrahim yakin leher anakanya akan putus tetapi sunggu aneh lehernya tidak apa-apa, kemudian Ibrahim mengulanginya lagi, pada waktu itu Allah perintahkan kepada Jibril untuk mengambil seekor kibas dari surga, dalam keadaan mata tertutup, Ibrahim menyembelih anaknya, darahpun berhamburan. Duhai betapa dahsyatnya cobaan ini ketika Ia melihat yang terpotong bukan anaknya tetapi kibas yang dibawa malaikat, bertakbirlah para malaikat, “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, Nabi Ibrahim menyambutnya “Laa ilaha illallahu Allahu Akbar“, Ismail juga menyambut “Allahu Akbar Walillahilhamdu“.

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia

Penyembelihan qurban menjadi syariat Islam yang abadi sampai akhir jaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Rasulullah SAW bersabda :

الاضحية لصا حبها بكل شعرة حسنة

Artinya :

“Qurban itu, untuk yang membuatnya dibalas Allah dengan pahala setiap helai bulunya satu kebaikan”. (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas memberikan gambaran betapa besar pahala amal qurban. Oleh sebab itu, marilah kita gunakan kesempatan yang baik ini bagi orang-orang yang mampu, berharta, agar melaksanakan amal qurban ini.

Ingatlah hidup pasti mati, harta kekayaan akan ditinggal begitu saja dan hanya amal jugalah yang akan dibawa ke alam baqa. Alangkah baiknya sekiranya umur masih ada, kita hendaknya mengumpulkan bekal untuk kelak di akhirat yakni dengan amal-amal kebajikan, termasuk qurban ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Riwayat Nabi Ibrahim yang telah kita dengan tadi bukan hanya suatu dongeng biasa yang masuk telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan, tetapi adalah mengandung suatu i’tibar yang sangat besar bagi kita, terutama pada saat-saat sekarang.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

نحن نقص عليك احسن القصص بما اوحينا اليك هذا القران وإن كنت من قبله لمن الغا فلين

Artinya :

“Kami ceritakan kepada engkau cerita yang paling bagus, dengan wahyu Kami kepada engkau dalam Al-Qur’an ini, biarpun engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS – Yusuf : 3)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

لقد كان فى قصصهم عبرة لا ولى الا لباب ما كان حد يثا يفترى ولكن تصد يق الذى بين يد يه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون

Artinya :

“Sesungguhnya dalam cerita-cerita mereka itu, didapat pengajaran untuk orang-orang yang berakal. Cerita-cerita itu bukan dongeng yang dibuat-buat saja, tetapi membenarkan apa yang telah terdahulu daripadanya, memberikan penjelasan akan segala sesuatu dan menjadi pimpinan dan rahmat untuk kaum yang beriman”. (QS – Yusuf : 111)

Dengan demikian maka kerelaan berqurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S. tadi hendaklah menjadi contoh kita dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.

Contoh besar yang diberikan oleh keluarga Ibrahim A.S. kepada kita semua adalah ketaatan Ibrahim dan Istri kepada Allah SWT ketika mendengar perintah ini mereka segera melaksanakan tanpa alasan apa-apa. Begitu pula dengan Ismail, dia seorang yang shaleh taat kepada Allah dan orang tuanya.

Semoga contoh mulia ini bisa kita teladani dalam menjalankan perintah Allah SWT, sehingga keluarga kita keluarga yang Saqinah, Mawaddah Warrahmah dan mendapat keampunan dari Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Hadirin jamaah Idul Adha Rahimakumullah…

Secara umum, seluruh kaum muslimin di penjuru dunia semenjak hari Arafah hingga habisnya hari Tasyrik mereka mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih dengan suara yang lantang dan keras penuh keyakinan, memproklamirkan bahwa tidak ada yang lebih besar dan lebih mulia dari pada Allah Tuhan Semesta Alam.

Dengan kedatangan kaum muslimin yang berbondong-bondong, beramai-ramai menuju masjid-masjid, mushalla-mushalla dan tanah-tanah lapang untuk mengerjakan shalat Idul Adha, kemudian melakukan penyembelihan hewan qurban untuk fakir miskin, semua itu membuktikan secara demonstratif ketaaatan mereka kepada Allah dan mengalahkan nafsu egois mereka untuk membantu sesama dengan penuh keikhlasan.

Peristiwa di atas, baik yang secara umum maupun secara khusus tersebut, menunjukkan kepada dunia betapa tingginya syiar Islam dan kuatnya ikatan ukhuwah islamiyah di kalangan kaum muslimin.

Allah berfirman :

ذلك ومن يعظم حرمت الله فهو خيرله عند ربه

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS – Al Hajj : 30)

Dalam ayat berikutnya juga dinyatakan :

ذلك ومن يعظم شعائرالله فا نها من تقوى القلوب

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka  sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati” (QS – Al Hajj : 32)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى وايا كم بما فيه من الا يات والذ كر الحكيم. انه هو البرالرحيم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

انا اعطينك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذ ى امرعبا د ه بتغظيم شعائره فاءنها من تقوى القلوب. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له علا م الغيوب. واشهد ان سيد نا محمدا عبده ورسوله المحمود المحبوب. اللهم صل وسلم على سيد نا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه الذ ين نالون غفران الذ نوب اما بعد فيا ايهاالناس اتقواالله حق تقاته ولاتمو تن الا وانتم مسلمون.