Tag: phbi

Menuju Keridhaan Allah SWT

Ridha merupakan bentuk infinitive (mashdar) dari radhiya-yardha yang diartikan sebagai rela, menerima dengan senang hati, cinta, merasa cukup (qanaah) berhati lapang.

Ridha adalah sesuatu perbuatan kita yang kita lakukan untuk membuat Allah senang dan Allah meridhai apa yang kita perbuat atau kita lakukan.

Ridha hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah. Sedangkan ridha Allah kepada hambaNya berarti Dia melihat dan menyukai hambaNya yang menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Dimensi ridha ada dua, pertama adalah Ridha billah atau rela dan cinta kepada Allah yang berarti bersedia mengimani dan menjadikanNya sebagai Dzat yang wajib diibadahi, tidak menyekutukanNya, dimintai pertolongan, dan ditaati syariatNya. Ridha yang kedua adalah Ridha ‘anillah yang berarti sebagai hamba menerima ketentuan, takdir, rezeki, dan segala sesuatu yang ditetapkan olehNya.

Keridhaan yang dimaksudkan bukan berarti seorang hamba itu menyerah atau pasrah dengan yang ada tanpa berusaha, berdoa dan bertawakal, justru sebaliknya hamba yang ridha diharuskan memahami hukum sebab-akibat, berusaha maksimal dan berdoa memohon pada Allah sebagai yang maha berkuasa atas segala sesuatu.

Ridha kepada Allah mengharuskan seorang hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk percaya kepada qadha dan qadar-Nya; mencintai dan mentaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dan mengikuti keteladananya; menjadikan Islam sebagai agama pilihan hidupnya; dan mengorientasikan hidupnya dengan penuh keikhlasan untuk meraih cinta dan ridha-Nya.

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus ditapaki hamba. Pertama, Ridha Bi Syar’illah (Syariat Allah) berarti menerima dan menjalankan syariat-Nya dengan ikhlas dan penuh dedikasi.

Kedua, Ridha Bi Qadha’illah (Ketentuan Allah) berati tidak menolak dan membenci apa yang telah ditetapkan Allah, termasuk segala sesuatu yang tidak menyenangkan (musibah), karena ujian dari Allah merupakan tangga peningkatan derajat keimanan seseorang.

Ketiga, Ridha Bi Rizqillah (Rezeki Allah)  berarti menerima dan merasa cukup (qana’ah) terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  meskipun sedikit dan belum mencukupi kebutuhannya.

Dengan demikian, menggapai ridha Allah itu merupakan keharusan bagi setiap Muslim, karena Allah menjadikan ridha itu sebagai syiar kehidupan akhirat.

Berkenaan dengan kegiatan untuk menuju keridhaan Allah SWT maka pada bulan Dzulhijjah kita tidak asing lagi dengan kegiatan ibadah qurban yang dilaksanakan oleh semua umat muslim di dunia, karena salah satu tujuan dari kegiatan berqurban adalah untuk mencapai keridhaan Allah SWT tersebut. Hal ini pula yang disampaikan oleh Ustadz Drs. Ahmad Hardiani dalam khotbah shalat Idul Adha pada tahun 1441H atau 2020M yang bertepatan dengan Hari Jum’at tanggal 31 Juli 2020. (Dinarasikan dari Berbagai Sumber)

Adapun khotbah Idul Adha yang disampaikan beliau sebagaimana ditulis ulang di bagian bawah ini atau dapat di download disini.

Syariat Menuju Keridhaan Allah SWT

Oleh : Ust. Drs. Ahmad Hardiani

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum muslimin yang berbahagia.

Sejak fajar menyingsing di pagi hari ini, sampai terbenam matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah nanti, atauyang dinamakan Hari-Hari Tasyriq selama 4 hari berturut-turut, kita berada dalam suasana ‘IdulAdha, ‘Id yang terbesar dalam Islam, ‘Id yang membayangkan betapa besar dan agungnya jiwa umat Islam yang telah bertaqwa kepada Allah SWT.

Pada hari ini, kita disuruh bershalat ‘Idul Adha dan menyembelih Qurban, sebagaimana firma Allah dalam Al-Qur’an :

انا اعطيناك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. (الكوثر

Artinya :

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenti kamu dialah yang terputus”. (QS- Al Kautsar : 1-3).

Semoga shalat ‘Id yang baru saja kita laksanakan bersama-sama diterima di sisi Allah Yang Maha Esa serta memberi kesan yang mendalam untuk ketenteraman jiwa dan kekuatan Iman di dalam menempuh kehidupan dunia ini. Semoga kita dalam kasih sayangnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia.

Sesudah shalat ‘Id ini kita diperintahkan oleh Allah melaksanakan syariat qurban, yakni dengan menyembelih hewan, seperti lembu atau kambing.

Qurban pada mulanya berasal dari syariat Nabi Ibrahim A.S. yang puncaknya kepada kerelaan akan menyembelih anaknya Ismail untuk memenuhi perintah Allah.

Nabi Ibrahim A.S. diuji, apakah cinta dan sayangnya terhadap anaknya melebihi dari cinta dan imannya kepada Allah yang disembahnya. Rupanya Nabi Ibrahim rela berpisah dengan anak kandungnya sendiri, asal saja perintah Allah dapat dijunjung dan ditaati.

Perintah penyembelihan ini diterimanya sejak tiga malam berturut-turut, yaitu tanggal 8, 9, 10 Dzul Hijjah, perintah ini lalu disampaikan kepada putranya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran.

فلما بلغ معه السعي قال يا بني انى ارى فى المنام انى اذ بحك فانظرماذا ترى

Artinya :

“Bertanya Ibrahim : Wahai anakku yang kusayang ! Sesungguhnya aku melihat (bermimpi) di dalam tidurku Aku diperintahkan menyembelih engkau, bagaimana barangkali pertimbanganmu ?” (QS – As Shaffat : 102)

Dalam kelanjutan ayat di atas dijelaskan bahwasannya Ismail dengan segera menjawab pertanyaan ayahnya, sebagaimana bunyi ayatnya :

قال يا ابت افعل ما تؤمرستجد نى ان شاء الله من الصا برين

Artinya :

“Wahai ayah yang kucintai ! Laksanakanlah apa-apa yang diperintahkan Allah kepada Ayah, ayah akan mendapati aku Insya Allah dalam ketabahan dan kesabaran” (QS – As Shaffat : 103).

Nabi Ibrahim pun segera melaksanakan perintah Allah menyembelih anaknya, dengan tangannya sendiri, penuh harapan dan tawakal kepada Allah untuk mencapai keredaanNya.

Nabi Ismail dengan tangan terikat, mata tertutup, badan terbaring siap sedia menyerahkan dirinya untuk disembelih sebagai bukti Qurban kepada Allah.

Dengan pisau terhunus lagi tajam, Nabi Ibrahim berlutut sambil meletakkan pisau ke leher anaknya Ismail, dengan mengucapkan Bismillahi Allahu Akbar, lalu pisau itupun digesekan ke leher Ismail. Ibrahim yakin leher anakanya akan putus tetapi sunggu aneh lehernya tidak apa-apa, kemudian Ibrahim mengulanginya lagi, pada waktu itu Allah perintahkan kepada Jibril untuk mengambil seekor kibas dari surga, dalam keadaan mata tertutup, Ibrahim menyembelih anaknya, darahpun berhamburan. Duhai betapa dahsyatnya cobaan ini ketika Ia melihat yang terpotong bukan anaknya tetapi kibas yang dibawa malaikat, bertakbirlah para malaikat, “Allahu Akbar, Allahu Akbar“, Nabi Ibrahim menyambutnya “Laa ilaha illallahu Allahu Akbar“, Ismail juga menyambut “Allahu Akbar Walillahilhamdu“.

Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia

Penyembelihan qurban menjadi syariat Islam yang abadi sampai akhir jaman.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Rasulullah SAW bersabda :

الاضحية لصا حبها بكل شعرة حسنة

Artinya :

“Qurban itu, untuk yang membuatnya dibalas Allah dengan pahala setiap helai bulunya satu kebaikan”. (HR. Ibnu Majah).

Hadis di atas memberikan gambaran betapa besar pahala amal qurban. Oleh sebab itu, marilah kita gunakan kesempatan yang baik ini bagi orang-orang yang mampu, berharta, agar melaksanakan amal qurban ini.

Ingatlah hidup pasti mati, harta kekayaan akan ditinggal begitu saja dan hanya amal jugalah yang akan dibawa ke alam baqa. Alangkah baiknya sekiranya umur masih ada, kita hendaknya mengumpulkan bekal untuk kelak di akhirat yakni dengan amal-amal kebajikan, termasuk qurban ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Riwayat Nabi Ibrahim yang telah kita dengan tadi bukan hanya suatu dongeng biasa yang masuk telinga kiri dan keluar lewat telinga kanan, tetapi adalah mengandung suatu i’tibar yang sangat besar bagi kita, terutama pada saat-saat sekarang.

Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :

نحن نقص عليك احسن القصص بما اوحينا اليك هذا القران وإن كنت من قبله لمن الغا فلين

Artinya :

“Kami ceritakan kepada engkau cerita yang paling bagus, dengan wahyu Kami kepada engkau dalam Al-Qur’an ini, biarpun engkau sebelum itu termasuk orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS – Yusuf : 3)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :

لقد كان فى قصصهم عبرة لا ولى الا لباب ما كان حد يثا يفترى ولكن تصد يق الذى بين يد يه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة لقوم يؤمنون

Artinya :

“Sesungguhnya dalam cerita-cerita mereka itu, didapat pengajaran untuk orang-orang yang berakal. Cerita-cerita itu bukan dongeng yang dibuat-buat saja, tetapi membenarkan apa yang telah terdahulu daripadanya, memberikan penjelasan akan segala sesuatu dan menjadi pimpinan dan rahmat untuk kaum yang beriman”. (QS – Yusuf : 111)

Dengan demikian maka kerelaan berqurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim A.S. tadi hendaklah menjadi contoh kita dalam beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT.

Contoh besar yang diberikan oleh keluarga Ibrahim A.S. kepada kita semua adalah ketaatan Ibrahim dan Istri kepada Allah SWT ketika mendengar perintah ini mereka segera melaksanakan tanpa alasan apa-apa. Begitu pula dengan Ismail, dia seorang yang shaleh taat kepada Allah dan orang tuanya.

Semoga contoh mulia ini bisa kita teladani dalam menjalankan perintah Allah SWT, sehingga keluarga kita keluarga yang Saqinah, Mawaddah Warrahmah dan mendapat keampunan dari Allah SWT.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…

Hadirin jamaah Idul Adha Rahimakumullah…

Secara umum, seluruh kaum muslimin di penjuru dunia semenjak hari Arafah hingga habisnya hari Tasyrik mereka mengumandangkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih dengan suara yang lantang dan keras penuh keyakinan, memproklamirkan bahwa tidak ada yang lebih besar dan lebih mulia dari pada Allah Tuhan Semesta Alam.

Dengan kedatangan kaum muslimin yang berbondong-bondong, beramai-ramai menuju masjid-masjid, mushalla-mushalla dan tanah-tanah lapang untuk mengerjakan shalat Idul Adha, kemudian melakukan penyembelihan hewan qurban untuk fakir miskin, semua itu membuktikan secara demonstratif ketaaatan mereka kepada Allah dan mengalahkan nafsu egois mereka untuk membantu sesama dengan penuh keikhlasan.

Peristiwa di atas, baik yang secara umum maupun secara khusus tersebut, menunjukkan kepada dunia betapa tingginya syiar Islam dan kuatnya ikatan ukhuwah islamiyah di kalangan kaum muslimin.

Allah berfirman :

ذلك ومن يعظم حرمت الله فهو خيرله عند ربه

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya” (QS – Al Hajj : 30)

Dalam ayat berikutnya juga dinyatakan :

ذلك ومن يعظم شعائرالله فا نها من تقوى القلوب

Artinya :

“Demikianlah (perintah Allah), dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka  sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati” (QS – Al Hajj : 32)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd…

بارك الله لى ولكم فى القران العظيم. ونفعنى وايا كم بما فيه من الا يات والذ كر الحكيم. انه هو البرالرحيم. اعوذ بالله من الشيطان الرجيم

انا اعطينك الكوثر. فصل لربك وانحر. ان شا نئك هوالابتر. وقل رب اغفر وارحم وانت خير الراحمين.

السلا م عليكم ورحمة الله وبركاته

الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة واصيلا لا اله الا الله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذ ى امرعبا د ه بتغظيم شعائره فاءنها من تقوى القلوب. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له علا م الغيوب. واشهد ان سيد نا محمدا عبده ورسوله المحمود المحبوب. اللهم صل وسلم على سيد نا ومولانا محمد وعلى اله وصحبه الذ ين نالون غفران الذ نوب اما بعد فيا ايهاالناس اتقواالله حق تقاته ولاتمو تن الا وانتم مسلمون.

Sejarah dan Makna Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

Isra Miraj diperingati setiap tahunnya oleh umat Islam. Tetapi, apakah makna dari perjalanan suci itu?

Isra Miraj yang setiap tahun diperingati oleh umat Islam adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha yang berada di lapisan langit ketujuh.

Isra Miraj dilakukan hanya dalam waktu satu malam dengan mengendarai buraq, yaitu makhluk yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menuju Sidratil Muntaha dengan kecepatan yang luar biasa.

Nabi Muhammad SAW Bertemu dengan Nabi lain.

Pada perjalanannya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi lainnya. Saat membuka pintu langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam. Lalu, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya.

Beranjak ke langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf. Setelah itu, di langit keempat dan kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris serta Nabi Nabi Harun. Naik ke langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa.

Sampai di lapisan langit ke tujuh, Nabi Muhammad disambut oleh Nabi Ibrahim, yang sekaligus menemaninya ke Sidratul Muntaha. Sesampainya disana, Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan salat 50 waktu dalam sehari semalam.

Setelah mendapat wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam dan kembali bertemu dengan Nabi Musa. Mendengar Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah salat 50 waktu dalam sehari dari Allah SWT, Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk kembali ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan.

Nabi Muhammad SAW Kembali Ke Sidratul Muntaha.

Nabi Muhammad mengikuti saran Nabi Musa dan kembali lagi ke Sidratul Muntaha. Permohonan keringanan Nabi Muhammad dikabulkan oleh Allah SWT dengan dikuranginya 5 salat dalam sehari.

Kemudian, Nabi Muhammad SAW kembali turun ke Nabi Musa dan mendapat saran yang sama. Nabi Musa masih merasa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu mengerjakan salat sebanyak 45 waktu dalam sehari.

Nabi Muhammad SAW lalu kembali lagi ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan. Lalu, Allah mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, Beliau turun untuk menemui Nabi Musa lagi.

Masih mendapatkan saran yang sama, Nabi Muhammad sampai bolak-balik antara Sidratul Muntaha dan langit keenam berkali-kali. Akhirnya, Allah memerintahkan kepada seluruh hambanya lewat Nabi Muhammad SAW untuk mengerjakan salat 5 waktu dalam sehari.

Sebenarnya, Nabi Musa masih menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan kembali. Namun, Nabi Muhammad SAW merasa malu kepada Allah SWT karena bolak-balik meminta keringanan. Beliau menerima perintah Allah untuk menjalankan salat 5 waktu dalam sehari.

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ini mungkin tidak terpikir oleh logika dan nalar manusia biasa. Tetapi, wajib untuk dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Semoga peristiwa Isra Miraj di atas dapat membuat Anda semakin mengetahui sejarah Islam dan asal usul salat 5 waktu.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Menjaga Amal

Khotbah Jum’at, 31 Januari 2020
Oleh : Ust. Azwari Purba

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاةُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِىْ اَنْزَلَ اْلقُرْاَنَ هُدًى لِّلْمُؤْمِنِيْنَ وَرَحْمَةً. وَاَتَمَّ بِهِ عَلَى اُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَفْضَلَ نِعْمَةٍ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَنْقَذَ نَامِنْ ضَلَالَةٍ. وَسَلَكَ بِنَا طَرِيْقَ اْلهِدَايَهِ. وَاَخْرَجَنَامِنَ الظُّلُمِاتِ اِلَى تُوْرِالتَّوْحِيْدِ وَاْلحُرِّيَةِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ صَلَاةً وَسَلَامًادَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ اِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. (اَمَّابَعْدُ)

يَااَيُّهَاالنَّاسُ اتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Marilah kita senantiasa memuji allah Subhanahu wa ta’ala yang menjadikan hidup dan mati, untuk menguji hamba-hamba-Nya sehingga terbedakan siapa yang paling baik amalannya di antara mereka. Begitu pula kita memuji Allah Subhanahu wa ta’ala, Rabb yang menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan memuliakan hamba-hamba-Nya yang menaati-Nya. Maka, sungguh berbahagialah orang-orang yang bertakwa kepada-Nya. Dan sungguh merugilah orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang senantiasa mengikuti jalannya, Amin Ya Rabbal Alamin…

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia ini ibarat tempat penyeberangan yang sedang dilalui oleh orang-orang yang hidup di dalamnya. Setiap orang akan melewati dan meninggalkannya, lalu menuju kehidupan yang sesungguhnya. Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan dunia ini sebagai tempat beramal dan akhirat sebagai tempat pembalasan amalan. Maka setiap orang yang beramal, dia akan melihat balasannya. Dan orang yang lalai akan menyesali perbuatannya. Setiap orang yang menjalani kehidupan dunia ini akan ada saat berakhirnya. Hari pembalasan pasti akan datang, dan apa saja yang akan datang adalah sesuatu yang dekat. Maka, janganlah kita tertipu dengan gemerlapnya kehidupan dunia yang sementara ini, sehingga melalaikan dari kehidupan yang sesungguhnya di akhirat nanti.

Ingatlah, bahwa kematian adalah suatu kepastian yang akan menimpa seseorang. Kemudian akan memisahkan dirinya dari keluarga, harta, serta tempat tinggalnya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memberitakan melalui firman-Nya, bahwa diantara manusia ada yang akan mendapatkan pertolongan dan mendapatkan kabar gembira saat kematiannya, serta ada pula yang merasakan ketakutan yang luar biasa. Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan keadaan orang-orang yang bahagia saat kematiannya dalam firman-Nya :

Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih dan berbahagialah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian’. Kami adalah penolong-penolong kalian dalam kehidupan dunia dan akhirat, di dalam (surga) kalian akan memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta“. (Q.S Fushilat : 30-31)

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Sungguh, kita semua tentu mengharapkan kabar gembira di saat malaikat maut hendak mencabut nyawa kita. Karena dengan itu seseorang akan mengawali kehidupan bahagia di alam akhiratnya. Dimulai dengan kenikmatan di alam kuburnya dan kemudahan-kemudahan yang akan terus dialami pada kehidupan akhiratnya.

Keutamaan yang Allah Subhanahu wa ta’ala karuniakan ini akan dirasakan oleh orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sehingga menerima dan menjalankan syariat-Nya dan mengikuti jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama yang mengikuti jejaknya.

Adapun orang-orang yang menyerahkan dirinya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala, sehingga beribadah kepada selain-Nya dan menyelisihi jalannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta jalan para ulama yang mengikutinya, maka dia akan merasakan siksa yang sangat pedih. Dimulai dari saat kematiannya dan begitu pula ketika berada di alam kuburnya serta kejadian-kejadian berikutnya.

Hadirin Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah…

Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir dan akan datang saatnya hari kebangkitan. Seluruh manusia, sejak yang pertama kali diciptakan hingga yang terakhir kali diciptakan akan dibangkitkan dari alam kuburnya, serta akan dikumpulkan di padang masyhar. Selanjutnya kehidupan akhirat akan berujung pada dua tempat tinggal yang sesungguhnya, yaitu surga atau neraka. Maka diantara manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, akan menjadi penduduk surga dan dikatakan kepada mereka :

كُلُواوَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِى اْلأَيَّامِ الْخَالِيَةِ

Makan dan minumlah kalian dengan penuh kesenangan disebabkan amal yang telah kalian kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (saat di dunia)“. (Q.S – Al-Haqqah : 24)

Sementara yang lainnya akan menjadi penduduk neraka. A’adzanallahu waiyyakum minannaar (semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari siksa api neraka). Mereka sebagaimana dalam firman-Nya, akan menyesal di akhirat kelak dengan mengatakan :

أَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يَاحَسْرَتَى عَلَى مَا فَرَّطتُ فِى جَنْبِ اللهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِيْنَ

Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, dan aku sungguh dahulu termasuk orang-orang yang memperolok-olokan (agama Allah)“. (Q.S – Az-Zumar : 56).

Akhirnya, marilah kita berlomba-lomba dalam beramal shalih dalam kehidupan yang singkat ini. Janganlah kita menjadi orang yang memiliki sifat sombong sehingga menolak kebenaran yang datang kepada kita. Begitu pula, janganlah kita menjadi orang-orang yang mendahulukan dunia dan mengikuti hawa nafsunya, sehingga berani berbicara dan mengamalkan agama tanpa bimbingan ulama. Sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan dalam firman-Nya.

Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)“. (Q.S – An-Nazi’at  : 37-41).

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung, sehingga mendapatkan surga-Nya dan diselamatkan dari siksa api neraka.

Amin, Amin Ya Rabbal Alamin…

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمٍ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَنَ لَفِى خُسْرٍ. إِلَّاالَّذِ يْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْاالصَّلِحَتِ وَتَوَا صَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْا بِالصَّبْرِ.

بَارَكَ اللهُ لِى وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْاَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّىْ وَمِنْكُمْ تِلَا وَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. اَقُوْلُ هَذَا وَاسْتَغِفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ لِى وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَالْغَفُوْرُالرَّحِيْمُ.

=== === ===

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ. إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمِّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. عِبَادَ الله. اِتَّقُوْا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلَا ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ. يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا. اَللَّهُمَّ صَلِ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَقَرَابَتِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْ مِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِي الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. عِبَا دَاللهُ. إِنَّ اللهَ يَأْ مُرُكُمْ بِالْعَدْ لِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَائِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَا ءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُاللهُ أَكْبَرُ